Oleh: Tim kajian dakwah alhikmah

alhikmah.ac.id
– – Segala pun yang terjadi di bumi dan yang menimpa diri bani adam pasti sudah digariskan oleh Tuhan Yang Jabar dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi kerumahtanggaan sebuah Kitab sreg zaman azali. Kematian, kelahiran, rizki, nasib, tara, bahagia, dan celaka sudah lalu ditetapkan sesuai ketentuan-takdir ilahiah nan tidak perkariban diketahui maka dari itu manusia. Dengan tidak adanya mualamat manusia mengenai ketetapan dan garis hidup Yang mahakuasa ini, maka engkau memiliki peluang maupun kesempatan bikin bersaing-lomba menjadi hamba nan saleh-muslih, berusaha keras bagi mengaras yang dicita-citakan sonder berpangku tangan menunggu suratan, dan berupaya memperbaiki citra diri.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan makanya Allah swt., seorang orang islam bukan pernah mengenal kata frustrasi privat kehidupannya, dan tidak berbesar hati diri dengan apa-apa yang sudah diberikan Allah swt. Sira akan berubah menjadi batu karang yang teguh menghadapi segala gelombang jiwa dan senantiasa panjang hati kerumahtanggaan menyongsong badai ujian yang silih bertukar. Kamu juga selalu bersyukur apabila kenikmatan demi kenikmatan fertil dalam genggamannya. Perhatikan sejumlah ayat Tuhan dan hadits Nabi berikut ini.

“Tiada satu rayuan pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu seorang melainkan telah tertulis internal kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu ialah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) meski kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput berasal kamu, dan cak agar kamu jangan terlalu gembira terhadap segala apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang berlagak pula membanggakan diri.” [QS. Al-Hadiid (57): 22-23]

“Dan lega jihat Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; lain cak semau yang mengetahuinya kecuali Engkau sendiri, dan Ia mengetahui apa nan di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai patera pun yang ringgis melainkan Engkau mengetahuinya (pula), dan tidak terban sebutir skor juga dalam kegelapan bumi, dan lain sesuatu yang basah atau nan kering, melainkan tertulis intern kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” [QS. Al-An’aam (6): 59]

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di keindraan.” Salah seorang terbit mereka berkata, “Bolehkah kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, (akan tetapi) beramallah…karena setiap orang dimudahkan (dalam bersedekah).” Kemudian engkau membaca ayat ini, “Mengenai manusia nan menyerahkan (hartanya di jalan Tuhan), bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun bani adam-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang selit belit [QS. Al-Lail (92): 5-10].” (HR Bukhari dan Mukminat, dari Ali bin Abi Thalib)

“Habis mengherankan seorang mukmin itu, karena semua urusannya mengandung kebaikan. Dan yang demikian itu bukan jalinan dimiliki seseorang kecuali basyar mukmin; apabila kamu diuji dengan kenikmatan (kesenangan), ia bersyukur. Maka, inilah kebaikan baginya. Dan apabila sira diuji dengan kemelaratan (kepayahan), ia bersabar. Maka, inilah kurnia baginya.” (HR Orang islam dari Abu Yahya Shuhaib polong Shinan)

Definisi Qadha dan Qadar

Secara etimologi, qadha memiliki banyak signifikansi, diantaranya sebagaimana berikut:

1. Pemutusan, kita boleh temukan pengertian ini sreg firman Allah, “(Engkau) yang mengadakan langit dan bumi dengan indahnya, dan mengakhirkan sesuatu perkara, hanya Dia mengatakan: Jdilah, tinggal jadi.” [QS. Al-Baqarah (2): 117]

2. Perintah, kita bisa temukan pengertian ini puas firman Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan meski dia jangan menyembah selain Dia dan hendaklah engkau mengerjakan baik sreg ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Sekiranya salah seorang di antara keduanya maupun kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sesekali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah beliau membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang indah.” [QS. Al-Israa` (17): 23]

3. Mualamat, bisa kita temukan dalam ayat, “Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas tinggal di waktu pagi buta.” [QS. Al-Hijr (15): 66]

Rohaniwan az-Zuhri berkata, “Qadha secara etimologi memiliki keistimewaan yang banyak. Dan semua signifikansi yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan….” (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Anak lelaki Al-Atsir 4/78)

Adapun qadar secara etimologi berusul dari kata qaddara, yuqaddiru, taqdiiran yang bermakna penentuan. Pengertian ini dapat kita lihat kerumahtanggaan ayat Tuhan berikut ini. “Dan sira menciptakan di dunia itu gunung-gemunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Ia menentukan padanya bilangan kas dapur-tembolok (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) untuk turunan-turunan yang bertanya.” [QS. Fushshilat (41): 10]

Dari sudut terminologi, qadha adalah embaran nan lampau, nan telah ditetapkan maka dari itu Halikuljabbar plong zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya satu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha).

Ibnu Hajar berkata, “Para jamhur berpendapat bahwa qadha ialah hukum kulli (global) ijmali (secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar merupakan babak-bagian kecil dan estimasi-perincian syariat tersebut.” (Fathul-Baari 11/477)

Terserah pula dari galengan cerdik pandai yang berpendapat sebaliknya, yakni qadar yakni syariat kulli ijmali pada zaman azali, sedangkan qadha yakni penciptaan yang terperinci.

Sebenarnya, qadha dan qadar ini ialah dua ki aib yang saling berkaitan, tidak mungkin satu setolok tak terpisahkan maka dari itu karena salah satu di antara keduanya adalah asas atau pondasi dari bangunan yang enggak. Maka, barangsiapa yang cak hendak memisahkan di antara keduanya, kamu betapa merobohkan bangunan tersebut (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu Atsir 4/78, Jami’ al-Ushuul 10/104).

Dalil-dalil Qadha dan Qadar


Beriman kepada qadha dan qadar merupakan salah suatu rukun iman, nan mana iman seseorang tidaklah sempurna dan sah kecuali beriman kepadanya. Ibnu Abbas pernah berkata, “Qadar yaitu nidzam (aturan) tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Yang mahakuasa dan beriman kepada qadar, maka tauhidnya model. Dan barangsiapa yang mentauhidkan Halikuljabbar dan mendustakan qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya” (Majmu’ Fataawa Syeikh Al-Islam, 8/258).

Maka itu karena itu, iman kepada qadha dan qadar ini yakni faridhah dan kewajiban yang harus dilakukan setiap orang islam dan muslim. Kejadian ini berdasarkan beberapa hadits berikut ini.

Hadits Jibril yang diriwayatkan Umar bin Khaththab r.a., di saat Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril adapun iman. Anda menjawab, “Kamu beriman kepada Halikuljabbar, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-utusan tuhan, Akhir zaman, dan beliau beriman kepada qadar baik maupun buruk.” (HR. Mukminat)

“Seandainya Allah swt. menyusahkan penduduk langit dan bumi, maka Engkau betapa melakukannya tanpa menzalimi mereka. Dan jika Dia mengasihi mereka, maka rahmat-Nya bertambah baik daripada amal mereka. Dan sekiranya dia memiliki emas begitu juga Argo Uhud maupun semisalnya, sangat sira infakkan di kronologi Yang mahakuasa, maka Engkau bukan akan menerimanya sehingga kamu beriman terhadap qadar dan ia mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan bukan bagianmu lain akan mengenaimu, dan sesungguhnya seandainya engkau sirep atas (aqidah) selain ini, maka niscaya kamu ikut neraka.” (HR. Ahmad, semenjak Zaid kedelai Tsabit)

Perhatikan beberapa ayat Allah dan hadits Nabi yang berkaitan dengan qadha dan qadar-Nya berikut ini.

“Tiada suatu provokasi pula yang menimpa di bumi dan (tidak juga) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah cak bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) kendati ia jangan berduka cita terhadap apa nan luput semenjak ia, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Yang mahakuasa bukan menaksir setiap bani adam yang sombong lagi mengagulkan diri.” [QS. Al-Hadiid (57): 22-23]

“Sepatutnya ada Kami menciptakan apa sesuatu menurut matra.” [QS. Al-Qamar (54): 49]

“(Yaitu di masa) ketika engkau berada di pinggir tong nan dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh, sedangkan kafilah itu berada di bawah beliau. Jikalau kamu mengadakan persetujuan (bagi menentukan musim pertempuran), pastilah kamu enggak sependapat dalam menentukan musim penampikan itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua tentara itu) agar Anda melakukan satu urusan nan teradat dilaksanakan, yaitu agar orang nan binasa itu binasanya dengan keterangan nan nyata dan seyogiannya individu nan hidup itu hidupnya dengan keterangan nan nyata (sekali lagi). Sesungguhnya Almalik Maha Mendengar lagi Maha Mengerti.” [QS. Al-Anfaal (8): 42]

“Bukan terserah satu keberatan pun atas Utusan tuhan tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah mutakadim menjadwalkan yang demikian) andai sunnah-Nya lega nabi-utusan tuhan yang sudah lalu berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu kekekalan yang pasti berlaku.” [QS. Al-Ahzab (33): 38]

“Nan pertama kali diciptakan Allah Nan Mahaberkah lagi Mahaluhur yakni pena (al-qalam). Kemudian Engkau berfirman kepadanya, ‘Tulislah…,’ Kamu bertanya, ‘Apa nan saya tulis?’ Dia berfirman, ‘Maka dia lagi batik apa yang ada dan yang bakal ada sebatas hari yaumul.” (HR Ahmad)

“Tiada sendiri pun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di surgaloka. Salah seorang mulai sejak mereka berkata, ‘Bolehkah kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?’ Ia menjawab, ‘Tidak, (akan tetapi) beramallah…karena setiap orang dimudahkan (dalam menderma),’ kemudian sira mengaji ayat ini, ‘Adapun manusia yang menerimakan (hartanya di urut-urutan Yang mahakuasa), bertakwa dan membenarkan adanya pahala nan terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan nan mudah. Dan akan halnya makhluk-orang yang bakhil, merasa dirinya patut dan mendustakan pahala yang terbaik, maka kami tulat akan menyiagakan baginya (jalan) yang sukar.’” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ali polong Abi Thalib)

“Adapun orang yang menyerahkan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan menyungguhkan adanya pahala yang terbaik (indraloka), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya kronologi yang mudah. Dan tentang hamba allah-orang nan bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kemudian hari Kami akan menyiapkan baginya (kronologi) nan susah.” [QS. Al-Lail (92): 5-10]

Rukun-rukun Iman Kepada Qadha Dan Qadar

Beriman kepada qadha dan qadar berfaedah memercayai rukun-rukunnya. Berdamai-rukun ini seumpama ketengan-asongan momongan tangga yang harus dinaiki makanya setiap mukmin. Dan tidak akan pernah seorang mukmin mencapai tangga keutuhan iman terhadap qadar kecuali harus meniti ketengan anak tingkatan tersebut.

Iman terhadap qadha dan qadar mempunyai empat akur sebagai berikut.

Mula-mula, Ilmu Sang pencipta swt. Beriman kepada qadha dan qadar berarti harus berkeyakinan kepda Guna-guna Yang mahakuasa nan adalah deretan sifat-aturan-Nya sejak azali. Dia mengetahui segala sesuatu. Tidak terserah makhluk sekecil segala pula di langit dan di mayapada ini nan tidak Dia ketahui. Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan. Dia juga mengetahui kondisi dan situasi-ihwal mereka yang sudah terjadi dan yang akan terjadi di masa yang akan datang oleh karena ilmu-Nya benar-benar meliputi apa sesuatu. Dialah Tuhan Yang Mengetahui yang gaib dan nan nyata.

Situasi ini bisa kita temukan dalam sejumlah ayat quraniah dan hadits nabawiah berikut ini.

“Halikuljabbar-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Yang mahakuasa main-main padanya, agar kamu memahami bahwasanya Allah Jabar atas apa sesuatu, dan sememangnya Sang pencipta guna-guna-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [QS. Ath-Thalaaq (65): 12]

“Dialah Allah Yang tiada Almalik selain Dia, Nan Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Sira-lah Yang Maha Pemurah kembali Maha Penyayang.” [QS. Al-Hasyr (59): 22]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-anak kunci semua nan ghaib; lain ada yang mengetahuinya kecuali Dia seorang, dan Engkau mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai patera pun nan luruh melainkan Sira mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir nilai pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan terdaftar n domestik kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” [QS. Al-An’aam (6): 59]

“Allah makin mengetahui apa nan mereka kerjakan momen menciptakan mereka.” (HR Muslim)

Kedua, Penulisan Qada dan qadar. Di sini mukmin harus beriktikad bahwa Almalik swt. menulis dan mengingat-ingat predestinasi atau bilangan-ketentuan yang berkaitan dengan kehidupan insan dan sunnah kauniah yang terjadi di mayapada di Lauh Mahfuzh—“kunci goresan dedikasi” yang dijaga. Tidak ada suatu barang apa pun nan telantar oleh-Nya. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.

“Tiada suatu bencana kembali nan menimpa di bumi dan (tidak pula) lega dirimu sendiri melainkan sudah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya nan demikian itu yaitu mudah bakal Yang mahakuasa. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap barang apa nan luput dari beliau, dan supaya anda jangan terlalu gembira terhadap apa nan diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang congkak pun menyombongkan diri.” [QS. Al-Hadiid (57): 22-23]

“Apakah engkau tidak mencerna bahwa sesungguhnya Almalik memafhumi segala saja yang ada di langit dan di dunia; bahwasanya yang demikian itu terletak dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya nan demikian itu amat mudah lakukan Sang pencipta.” [QS. Al-Hajj (22): 70]

“Dan tiadalah satwa-binatang yang cak semau di bumi dan burung-burung yang bimbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (pun) seperti mana kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun internal Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” [QS. Al-An’aam (6): 38]

“Nan permulaan kali diciptakan Sang pencipta Yang Mahaberkah lagi Mahaluhur adalah pen (al-grip). Kemudian Ia berfirman kepadanya, ‘Tulislah….” Ia bertanya, ‘Apa yang aku tulis?’ Dia bercakap, maka kamu pula menulis apa nan cak semau dan yang bakal ada sampai waktu kiamat.” (HR. Ahmad)

Ketiga, Masyi`atullah (Kehendak Sang pencipta) dan Qudrat (Pengaruh Halikuljabbar). Koteng muslim yang sudah lalu mengimani qadha dan qadar harus meyakini masyi`ah (kehendak) Halikuljabbar dan kekuasaan-Nya yang mondial. Apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi meskipun khalayak tidak menginginkannya. Serupa itu sekali lagi sebaliknya, barang apa lagi yang enggak dikehendaki pasti tidak akan terjadi meskipun bani adam memohon dan menghendakinya. Hal ini bukan dikarenakan Engkau lain mampu melainkan karena Dia tidak menghendakinya. Allah berfirman,

“Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit ataupun di marcapada. Sesungguhnya Allah Maha Mengarifi juga Maha Kuasa.” [QS. Faathir (35): 44]

Adapun dalil-dalil tentang masyi`atullah silam banyak kita temukan privat Al-Qur`an, di antaranya sebagai berikut.

“Dan kamu lain boleh menuntut (menuntut ganti rugi urut-urutan itu) kecuali apabila dikehendaki Sang pencipta, Sang pencipta semesta alam.” [QS. At-Takwiir (81): 29]

“Dan anak adam-orang nan mendustakan ayat-ayat Kami adalah bising, tunawicara dan berada kerumahtanggaan terlarang gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Tuhan (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya wangsit), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang verbatim.” [QS. Al-An’aam (6): 39]

“Sesungguhnya kejadian-Nya apabila Anda memaui sesuatu hanyalah mengomong kepadanya, ‘Jadilah!’ maka terjadilah beliau.” [QS. Yaasiin (36): 82]

“Kelihatannya yang dikehendaki Almalik menjadi orang baik, maka Ia akan menjadikannya faqih (memahami) agama ini.” (HR. Bukhari)

Simaklah barang apa jawaban Imam Syafi’i saat ditanya tentang qadar berikut ini.

“Maka, segala-barang apa yang Engkau kehendaki tentu terjadi meskipun aku tidak berkehendak
Dan apapun nan aku kehendaki—apabila Engkau tidak berkehendak—tidak akan hubungan terserah

Engkau menciptakan hamba-hamba ini sesuai yang Beliau ketahui
Maka dalam (bingkai) guna-guna ini, lahirlah pemuda dan orang berida

Kepada (hamba) ini, Sira telah memberikan anugerah dan kepada nan ini Engkau hinakan
Yang ini Sira tolong dan nan ini Beliau biarkan (tanpa pertolongan)

Maka, dari mereka terserah yang celaka dan sebagian mereka suka-suka nan beruntung
Berasal mereka ada yang tebal hati dan sebagian mereka suka-suka yang baik

Keempat, Kreasi-Nya. Ketika berketentuan terhadap qadha dan qadar, koteng mukmin harus memercayai bahwa Almalik-lah pembuat segala sesuatu, tidak ada Khaliq selain-Nya dan tidak ada Rabb semesta alam ini selain Kamu. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

“Allah menciptakan barang apa sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” [QS. Az-Zumar (39): 62]

“Nan kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Engkau bukan mempunyai anak, dan tidak terserah sekutu bagi-Nya dalam dominasi(Nya), dan dia sudah lalu menciptakan segala sesuatu, dan Engkau menetapkan ukuran-ukuranya dengan serapi-rapinya.” [QS. Al-Furqaan (25): 2]

“Padahal Halikuljabbar-lah nan menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat Itu.“ [QS. Ash-Shaaffat (37): 96]

“Sesungguhnya, Allah adalah Penyusun semua pegiat dan pekerjaannya.” (HR. Wasit)

Inilah empat berdamai berketentuan kepada qadha dan qadar yang harus diyakini setiap muslim. Maka, apabila salah satu di antara empat ini diabaikan atau didustakan, niscaya ia tidak akan pernah sampai gerbang keimanan yang sesungguhnya. Sebab, mendustakan suatu di antara empat damai tersebut berarti subversif bangunan iman terhadap qadha dan qadar, dan ketika bangunan iman terhadap qadar rusak, maka juga akan menimbulkan kehancuran sreg bangunan tauhid itu sendiri.


Diversifikasi-macam Takdir

Suratan suka-suka empat spesies. Hanya, semuanya pun kepada garis hidup yang ditentukan pada zaman azali dan kembali kepada Aji-aji Allah yang meliputi segala sesuatu. Keempat macam takdir tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Takdir Awam (Bilangan Azali). Kadar yang meliputi segala sesuatu dalam panca puluh mili waktu sebelum diciptakannya langit dan mayapada. Di ketika Allah swt. memerintahkan Al-Grip (pen) untuk menuliskan segala sesuatu yang terjadi dan yang belum terjadi sebatas hari hari akhir. Hal ini berlandaskan dalil-dalil berikut ini.

“Tiada suatu batu pun yang merayapi di marcapada dan (tak pula) pada dirimu koteng melainkan telah tercantum internal kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah untuk Allah.” [QS. Al-Hadiid (57): 22]

“Allah-lah yang mutakadim menuliskan ketentuan segala apa makhluk sejak panca puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan dunia. Beliau bersabda, ‘Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim)

Kedua, Qada dan qadar Umuri. Yaitu garis hidup nan diberlakukan atas manusia pada tadinya penciptaannya saat pembentukan air semen (usia empat rembulan) dan berkepribadian umum. Takdir ini mencakup rizki, ajal, kepelesiran, dan penderitaan. Hal ini didasarkan perbuatan nabi nabi muhammad Rasulullah saw. berikut ini.

“…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat catur perkara: rizki, ajal, sengsara, maupun bahagia….” (HR. Bukhari)

Ketiga, Kodrat Samawi. Yaitu takdir yang dicatat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun. Perhatikan firman Allah berikut ini.

“Lega malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [QS. Ad-Dukhaan (44): 4-5]

Ahli tafsir menyebutkan bahwa pada lilin lebah itu dicatat dan ditulis semua yang akan terjadi dalam setahun, mulai dari khasiat, kelainan, rizki, ajal, dan lain-lain yang berkaitan dengan situasi dan kejadian dalam setahun. Hal ini sebelumnya mutakadim dicatat pada Lauh Mahfudz.

Keempat, Bilangan Yaumi. Ialah ketentuan yang dikhususkan lakukan semua keadaan nan akan terjadi intern suatu hari; mulai bermula reka cipta, rizki, memarakkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan bukan sebagainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Semua yang ada di langit dan bumi camar meminta kepada-Nya. Setiap waktu Sira n domestik kesibukan.” [QS. Ar-Rahmaan (55): 29]

Ketiga suratan yang buncit tersebut, kembali kepada takdir azali: takdir yang telah ditentukan dan ditetapkan dalam Lauh Mahfudz.

Berdalih dengan Qadar dalam Kemaksiatan dan Murka alam

Semua yang ditakdirkan oleh Allah swt. selalu tersirat hikmah dan maslahat untuk basyar. Hikmah dan arti yang telah diketahui oleh-Nya. Maka, Dia tidak pernah menciptakan kejelekan dan keburukan lugu nan lain pernah bersalin suatu kemaslahatan. Kejelekan dan komplikasi ini lain boleh dinisbatkan kepada Almalik swt., melainkan dinisbatkan kepada dedikasi ulah khalayak. Selayaknya, apa sesuatu yang dinisbatkan kepada Yang mahakuasa mengandung keseimbangan, hikmah, dan rahmat .

Hal ini berdasarkan firman Tuhan swt., “Apa namun lezat yang kamu cak dapat yakni dari Allah, dan apa namun bencana yang menimpamu, maka berbunga (kesalahan) dirimu koteng. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan padalah Almalik menjadi saksi.” [QS. An-Nisaa` (4): 79]

Maksudnya, segala kenikmatan dan kebaikan nan dialami manusia berpangkal dari Allah SWT, sedangkan ki kesulitan yang menimpanya diakibatkan karena dosa dan kemaksiatannya.

Tuhan membenci kekufuran dan kemaksiatan yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Sebaliknya, Engkau menganakemaskan dan meridhai ketakwaan dan kesalehan. Sira sekali lagi menunjukkan dua urut-urutan untuk hamba-hamba-Nya, sedangkan manusia diberikan akal busuk untuk melembarkan salah suatu kronologi tersebut sesuai pilihan dan kehendaknya. Maka, barangsiapa nan memilih perkembangan kekuatan ia berhak beruntung kodrat dan yang memilih jalan keburukan atau kebatilan maka ia berwenang mendapat habuan siksa oleh karena peristiwa ini dilakukan secara pulang ingatan dan atas pilihannya sendiri tanpa ada molekul paksaan. Meskipun sebab-sebab dan factor-faktor pendorong amal perbuatannya enggak lepas dari kehendak Almalik swt.

Maka, tak ada alasan dan hujjah pula untuk manusia bahwa setiap kekufuran dan kemaksiantan yang dilakukannya karena takdir Allah swt. Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang berdalih dengan masyi-at Almalik atas kekufuran mereka seperti privat firmanNya;

“Individu-hamba allah yang mempersekutukan Yang mahakuasa, akan mengatakan, ‘Jika Sang pencipta memaksudkan, niscaya kami dan buya-bapak kami tidak menyekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu barang apa pun.’ Demikian pulalah orang-hamba allah sebelum mereka sudah lalu mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan kesengsaraan Kami. Katakanlah, ‘Adakah kamu memiliki sesuatu pengetahuan sehingga dapat dia mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. Katakanlah, ‘Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi lestari; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia membagi ramalan kepada kamu semuanya.” [QS. Al-An’aam (6): 148-149]

“Dan berkatalah orang-turunan musyrik, ‘Jika Tuhan menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami atau bapak-kiai kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pula sonder (abolisi)-Nya.’ Demikianlah nan diperbuat orang-manusia sebelum mereka, maka tidak terserah kewajiban atas para rasul, selain dari menampilkan (pemberitahuan Allah) dengan semarak. Tiap-tiap umat mempunyai rasul yang diutus untuk membersihkan kebenaran.” [QS. An-Nahl (16): 35]

Adapun berhujjah dengan predestinasi atas petaka yang menimpa manusia boleh dibenarkan Islam. Sebagaimana dialog yang terjadi antara Utusan tuhan Adam dan Nabi Musa tentang musibah dikeluarkannya Anak adam dari surga.

“Adam dan Musa berbantah-bantahan. Musa berkata, ‘Wahai, Adam, Anda merupakan bapak kami nan telah mengecewakan dan mengeluarkan kami bermula surga. Lalu Adam menjawab, ‘Anda, duhai Musa nan sudah dipilih Allah dengan Kalam-Nya dan menuliskan untkmu dengan Tangan-Nya, apakah ia mencela kepadamu atas suatu perkara yang mana Allah telah menakdirkan kepadaku sebelum aku diciptakan empat puluh masa?’ Maka Nabi merenjeng lidah, ‘Maka, Adam telah membantah Musa, Laki-laki telah membantah Musa.’” (HR. Muslim)

Buah Iman Kepada Qadar

Orang islam yang meyakini akan qadha dan qadar Tuhan swt. secara ter-hormat akan melahirkan buah-buah maujud dalam kehidupannya. Ia enggak akan pernah frustrasi atas kegagalan atau maksud-maksud yang lari darinya, dan ia tidak terlalu berbangga diri atas kenikmatan dan karunia yang cak semau di genggamannya. Panjang hati dan terima kasih adalah dua senjata kerumahtanggaan menghadapi setiap persoalan hidup.

Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar n domestik kitab “Al-Qadha wa Al-Qadar” memendekkan buah beriktikad terhadap qadar ibarat berikut.

Pertama, perkembangan yang membebaskan kesyirikan.

Kedua, konstan istiqamah. “Sesungguhnya, basyar diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan kamu berkeluh kesah, dan apabila kamu mendapat arti ia amat kikir, kecuali orang-turunan yang mengerjakan shalat.” [QS. Al-Ma’arij (70): 19-22]

Ketiga, gegares berhati-hati. “Maka apakah mereka merasa aman berusul azab Tuhan (nan tidak terkira-duga)? Tiada yang merasa lega dada dan aniaya Sang pencipta kecuali insan-orang nan merugi.” [QS. Al-A’raaf (7): 99]

Keempat, sabar privat menghadapi segala problematika kehidupan. (dkwt)

download